Langsung ke konten utama

Pemanfaatan Dunia Cyber Dalam Pendidikan Sebagai Upaya Peningkatan Karakter Jawara Peserta Didik



Peningkatan karakter dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, salah satunya melalui program bimbingan menggunakan Dunia cyber. Dunya cyber dipandang sebagian masyarakat sebagai dunia yang memiliki banyak dampak negative, disamping itu kita ingin memanfaatkan nilai positif dunia cyber yang justru dapat meningkatkan karakter Jawara peserta didik. Seperti yang telah diketahui bahwa dunya cyber memiliki beberapa nilai postif, antara lain berguna sebagai sebagai media komunikasi, media pertukaran data, dan media untuk mencari informasi atau data. Sedangkan Karakter JAWARA meupakan ciri khas yang dimiliki seseorang yang terdiri dari nilai Jujur, Adil, Wibawa, Amanah, Religius dan Akuntabel. Karakter peserta didik saat ini menjadi sorotan utama dunia pendidikan karena sudah dianggap krisis. Pola hidup peserta didik saat ini telah banyak bergantung terhadap teknologi, sepeti gadget. Peserta didik lebih tertarik dan merasa kekinian dengan menggunakan teknologi. Berdasarkan data tersebut,  Program bimbingan menggunakan dunia cyber sesuai dengan pola hidup masyarakat saat ini yang selalu ingin instan dan fleksibel dalam menjalankan kehidupan.
Peningkatan karakter peserta didik menggunakan dunia cyber merupakan hal yang tidak asing, karena tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat sudah konsumtif terhadap dunia cyber. Selain itu, penggunaan dunia cyber dalam dunia pendidikan dipandang efektif, karena memiliki beberapa manfaat yang dapat di adopsi dalam dunia pendidikan. Dunia cyber bersifat fleksibel, sehingga memudahkan peserta didik untuk mendapatkan informasi dimana saja dan kapan saja. Melihat kondisi dilapangan masih banyak peserta didik yang tidak dapat memanfaatkan dunia cyber dengan baik, sehingga perlu adanya kajian. Hal ini yang melatar belakangi penulis untuk mengkaji tentang pemanfaatan dunia cyber dalam pendidikan sebagai upaya peningkatan karakter JAWARA (Jujur, Adil, Wibawa, Amanah, Religius, dan Akuntabel) pada peserta didik.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Dunia Memiliki definisi alam kehidupan. Sedangkan Pengertian Cyber Menurut tata istilah teknologi informasi adalah online atau menggunakan internet, penggambaran cyber dalah ketika Anda bekerja dengan komputer dan melakukan pekerjaan lebih dari world wide web.
Menurut Darmawan (2012) Secara umum  dunia cyber memiliki manfaat antara lain :
1.     Sebagai media komunikasi,
2.     Sebagai media pertukaran data,
3.     Sebagai media untuk mencari informasi atau data
Alwisol (2009) menjelaskan karakter sebagai penggambaran tingkah laku dengan menonjolkan nilai (benar-salah, baik-buruk) baik secara eksplisit maupun implisit. Karakter berbeda dengan kepribadian kerena pengertian kepribadian dibebaskan dari nilai.
Karakter JAWARA merupakan karakter yang terdiri dari Jujur, Adil, Wibawa, Amanah, Religius dan Akuntabel.
Program bimbingan sebagai upaya peningkatan karakter JAWARA peserta didik dengan memanfaatkan dunia cyber. Dunia cyber memiliki sifat fleksibel, sehingga dapat memudahkan peserta didik dalam mendapatkan informasi khususnya dalam seting pendidikan formal. Program bimbingan ini bisa dilakukan oleh kesiswaan, wali kelas, dan guru bimbingan dan konseling. Program bimbingan menggunakan dunia cyber sangat penting untuk dilaksanakan karena memenuhi kebutuhan masyarakat diera teknologi seperti saat ini. Secara literatur, program ini dapat digunakan dalam peningkatan karakter jawara peserta didik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hubungan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Perilaku Prososial Anak Prasekolah

Anak usia prasekolah memiliki karakteristik tersendiri dalam segi pertumbuhan dan perkembangannya. Anak usia prasekolah adalah anak yang berusia antara 3-6 tahun (Wong, 2000). Pada usia ini anak bisa diarahkan ke arah yang positif atau ke arah yang bisa membantu perkembangan   sikap, pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta yang diperlukan oleh anak tersebut. Erik H. Erikson (Helms & Turner, 1994) memandang periode usia 4-6 tahun sebagai fase sense of initiative.   Anak dilahirkan belum bersifat sosial, dalam arti dia belum memiliki kemampuan untuk lebih akrab dengan orang lain. Baron & Byrne (2003) menjelaskan perilaku prososial sebagai segala tindakan apa pun yang menguntungkan orang lain. Secara umum, istilah ini diaplikasikan pada tindakan yang tidak menyediakan keuntungan langsung pada orang yang melakukan tindakan tersebut, dan bahkan mungkin mengandung derajat resiko tertentu. Faturochman (2006) juga menyatakan perilaku prososial sebagai perilaku yang memi...

Makna dan Fungsi Prinsip-prinsip Filosofis Bimbingan Konseling

Kata filosofis atau filsafat berasal dari bahasa Yunani: Philos berarti cinta dan sophos berarti bijaksana, jadi filosofis berarti kecintaan terhadap kebijaksanaan. Sikun pribadi mengartikan filsafat sebagai suatu “usaha manusia untuk memperoleh pandangan atau konsepsi tentang segala yang ada, dan apa makna hidup manusia dialam semesta ini”. Filsafat mempunyai fungsi dalam kehidupan manusia, yaitu bahwa : 1)       Setiap manusia harus mengambil keputusan atau tindakan, 2)       Keputusan yang diambil adalah keputusan diri sendiri 3)       Dengan berfilsafat dapat mengurangi salah paham dan konflik, dan 4)       Untuk menghadapi banyak kesimpangsiuran dan dunia yang selalu berubah. Dengan berfilsafat seseorang akan memperoleh wawasan atau cakrawala pemikiran yang luas sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat John J. Pietrofesa et. al. (1980) mengemukakan pendapat Jame...

Implikasi Stereotip dan Prasangka dalam Bimbingan dan Konseling

Stereotip ---------> Prasangka   Stereotip merupakan aspek kognitif yang terjadi akibat adanya pengetahuan yang terbatas terhadap suatu objek, sedangkan disposisi dari stereotip cenderung akan menimbulkan sikap berprasangka sebagai bentuk aspek afektifnya. Sedangkan dilihat dari aspek konatifnya, cenderung dapat menimbulkan tindakan diskriminasi yang merupakan disposisi dari sikap berprasangka hendaknya kita sebagai calon konselor mampu menghindari sikap prasangka/perasaan negatif dan stereotip terhadap konseli. Etik mencakup pada temuan-temuan yang tampak konsisten atau tetap di berbagai budaya, dengan kata lain sebuah etik mengacu pada kebenaran atau prinsip yang universal. Etik merupakan penggunaan sudut pandang orang luar yang berjarak (dalam hal ini siapa yang mengamati) untuk menjelaskan suatu fenomena dalam masyarakat. Dalam konseling lintas budaya menggunakan perspektif objektif ini seorang konselor akan menggunakan dua pendekatan kebudayaan yang berbeda terha...